Sigap86.id | Way Jepara, Lampung Timur – Suasana duka menyelimuti Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, setelah Kepala Desa Braja Asri, Darusman, meninggal dunia dalam sebuah peristiwa tragis yang terjadi di kawasan perbatasan Taman Nasional Way Kambas dan lahan pertanian warga, Rabu, 31 Desember 2025.
Peristiwa tersebut terjadi saat Darusman turut serta bersama warga melakukan upaya pengamanan lahan pertanian yang kembali dimasuki kawanan gajah liar. Sejak malam sebelumnya, sejumlah gajah dilaporkan berada di area persawahan dan perkebunan karet milik warga Desa Braja Asri, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan tanaman dan keselamatan masyarakat.
Sebagai kepala desa, Darusman dikenal aktif dan sering terlibat langsung dalam berbagai persoalan yang dihadapi warganya. Dalam kejadian tersebut, ia ikut mendampingi warga yang berusaha menghalau gajah agar menjauh dari permukiman dan lahan pertanian.
Namun dalam proses pengamanan yang dilakukan secara manual tersebut, situasi berubah tidak terkendali. Salah satu gajah dilaporkan bergerak agresif, hingga menyebabkan Darusman terjatuh dan mengalami luka serius akibat terinjak satwa liar tersebut.
Korban segera dievakuasi oleh warga bersama aparat ke fasilitas kesehatan terdekat. Darusman sempat mendapatkan penanganan medis di RSUD Sukadana, Lampung Timur, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek, Bandar Lampung. Sayangnya, nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan.
Peristiwa ini kembali menyoroti konflik antara manusia dan satwa liar yang masih kerap terjadi di wilayah sekitar Taman Nasional Way Kambas. Kawasan penyangga taman nasional selama ini memang rawan dimasuki gajah, terutama ketika sumber pakan di habitat aslinya berkurang.
Dalam konteks ini, peran Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan pemerintah daerah menjadi sangat penting, baik dalam upaya pencegahan konflik satwa-manusia, pengamanan wilayah penyangga, maupun edukasi serta perlindungan bagi masyarakat yang tinggal berdampingan dengan kawasan konservasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak TNWK terkait langkah penanganan pasca kejadian tersebut. Sementara itu, warga Desa Braja Asri masih meningkatkan kewaspadaan karena keberadaan kawanan gajah di sekitar area pertanian belum sepenuhnya dapat dipastikan menjauh.
Kepergian Darusman meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Braja Asri. Ia wafat saat menjalankan perannya sebagai pemimpin desa, berada di tengah warganya, menghadapi persoalan nyata yang selama ini menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Peristiwa ini diharapkan menjadi perhatian bersama bagi seluruh pemangku kepentingan, agar upaya perlindungan warga, pelestarian satwa, serta penanganan konflik manusia dan gajah dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan berkelanjutan ke depan.
(Wahyu Pribadi)
















